PGSD UNNES JAYA !!

.

Selasa, 23 Desember 2014

Kesalahan Sintaksis

Nih buat temen-temen yang ingin memahami Kaidah-Kaidah Kebahasaan Untuk Menganalisis Kesalahan Penggunaan Bahasa Indonesia Bidang Sintaksis


Menerapkan Kaidah-Kaidah Kebahasaan Untuk Menganalisis Kesalahan Penggunaan Bahasa Indonesia Bidang Sintaksis


      



Disusun oleh      :
Dita Setyo Nugroho                        (1401414252)
Bagas Prabo Sunu                            (1401414228)
Wahyu Febriana                               (1401414210)
Riski Nurseptiani                              (1401414229)

Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar
Fakultas Ilmu Pendidikan
Universitas Negeri Semarang
2014


Kata Pengantar


Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT yang telah melimpahkan segala rahmat, hidayah, dan karunia-Nya, sehingga penulisan makalah yang berjudul Menerapkan Kaidah-Kaidah Kebahasaan Untuk Menganalisis Kesalahan Penggunaan Bahasa Indonesia Bidang Sintaksis dapat penulis selesaikan dengan lancar tanpa ada hambatan yang berarti.
            Penulisan makalah Menerapkan Kaidah-Kaidah Kebahasaan Untuk Menganalisis Kesalahan Penggunaan Bahasa Indonesia Bidang Sintaksis ini dilakasanakan agar mahasiswa mengetahui kaidah-kaidah kebahasaan yang terkandung dalam bahasa Indonesia yang menjadi bahasa nasional dan merupakan bahasa pengantar dalam bidang pendidikan. Selain itu, diharapkan agar mahasiswa tidak sekedar mengerti tetapi juga memahami dan menerapkan kaidah-kaidah kebahasaan tersebut dalam berkomunikasi sehingga mahasiswa dapat berkomunikasi dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
            Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini, penulis tidak dapat bekerja sendiri, tanpa ada bimbingan, saran-saran dan bantuan dari banyak pihak sehingga makalah ini dapat terselesaikan dengan lancar tanpa ada hambatan yang berarti.
Penulis menyadari, dalam penyusunan makalah ini terdapat banyak kekurangan serta jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun, penulis harapkan demi kesempurnaan di masa yang akan datang. Penulis berharap semoga makalah ini memberi manfaat bagi penulis pada khususnya dan bagi pembaca pada umumnya.

Semarang, 30 September 2014

Penulis


Daftar Isi









A.     Latar Belakang

Dalam pemahaman umum, bahasa Indonesia sudah diketahui sebagai alat berkomunikasi. Setiap situasi memungkinkan seseorang memilih variasi bahasa yang akan digunakannya. Berbagai faktor turut menentukan pemilihan tersebut, seperti penulis, pembaca, pokok pembicaraan, dan sarana. Dalam berbahasa Indonesia, tingkat kesadaran dan kepatuhan akan kaidah-kaidah kebahasaan secara jelas tergambarkan melalui perilaku berbahasa kita, baik ketika kita menggunakan bahasa Indonesia dalam bentuk lisan maupun dalam bentuk tulisan. Tata bahasa baku bahasa Indonesia pada dasarnya merupakan rambu-rambu yang harus disadari dan sekaligus dipatuhi oleh para pemakai bahasa Indonesia agar perilaku berbahasa mereka tetap memperlihatkan ciri kerapian dan kecermatan. Kerapian dan kecermatan berbahasa ini hanya mungkin apabila bahasa Indonesia itu sendiri sebagai alat komunikasi memang telah siap untuk digunakan secara rapi dan cermat.
      Ada dua hal mendasar yang harus dipenuhi oleh bahasa Indonesia agar bahasa persatuan dan bahasa negara milik bangsa Indonesia itu tetap mantap dapat digunakan sebagai alat komunikasi yang efektif dan efisien. Pertama, kaidah-kaidah kebahasaannya harus mantap. Kedua, perbendaharaan kata dan peristilahannya harus kaya dan lengkap. Apabila kedua macam persyaratan itu terpenuhi, bahasa Indonesia telah siap untuk digunakan secara rapi dan cermat untuk berbagai keperluan komunikasi, termasuk dalam konteks upaya mencerdaskan kehidupan bangsa.
Sebagai seorang guru atau calon guru yang sedang berpraktik mengajarkan bahasa Indonesia, apabila diperhatikan dengan saksama, Kita akan menemukan kesalahan-kesalahan yang dibuat siswa. Kesalahan-kesalahan itu ternyata dapat Kita pilah dalam dua kategori, yaitu kategori kesalahan dalam bidang keterampilan dan kesalahan dalam bidang linguistik. Kesalahan yang berhubungan dengan keterampilan terjadi pada saat siswa menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Sedangkan kesalahan dalam bidang linguistik meliputi tata bunyi (fonologi), tata bentuk kata (morfologi), sintaksis, dan leksikal.
Berawal dari sebuah ungkapan yang sudah begitu tidak asing di telinga orang Indonesia, terlebih para akademisi bahasa dan linguistik, yaitu “Pergunakanlah Bahasa Indonesia dengan Baik dan Benar!”. Meskipun kita sering mendengae ungkapan tersebut, tetapi tidak jarang dari para akademisi yang tidak mengetahui makna dari ungkapan tersebut. Oleh karenanya perlu kiranya kita membahasa dan mendeskripsikan apa maksud dari ungkapan tersebut. Dengan cara menganalisis kesalahan bahasa, kita akan menemukan makna dari ungkapan di atas. Karena dengan menganalisis kesalahan berbahasa, kita dapat menjelaskan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Bahasa Indonesia yang baik adalah bahasa Indonesia yang memenuhi factor-faktor komunikasi, adapun bahasa Indonesia yang benar adalah bahasa Indonesia yang memnuhi kaidah-kaidah dalam kebahasaan.


B.     Rumusan Masalah

Dalam makalah ini, masalah-masalah yang akan dibahas antara lain:
1.      Apakah yang dimaksud dengan kesalahan sintaksis?
2.      Apa saja yang menjadi komponen-komponen analisis kesalahan sintaksis?
3.      Bagaimanakah penerapan kaidah-kaidah kebahasaan tersebut dalam hal berkomunikasi baik lisan maupun tertulis?

C.     Tujuan

Dalam membuat makalah ini  tentunya penulis mempunyai tujuan diantaranya:
1.      Menjelaskan ruang lingkup kesalahan-kesalahan dalam bidang sintaksis
2.      Menjelaskan secara rinci kesalahan dalam bidang frasa
3.      Menjelaskan secara rinci kesalahan dalam bidang klausa
4.      Menjelaskan secara rinci kesalahan dalam bidang kalimat


BAB 2 PEMBAHASAN


A.     Analisis Kesalahan Sintaksis

Kalau fonologi membahas tentang bunyi-bunyi bahasa, sedang morfologi
membahas tentang morfem dan kata, maka sintaksis membahas tentang apa?
Tarigan (1984) mengemukakan bahwa sintaksis adalah salah satu cabang dari
tatabahasa yang membicarakan struktur kalimat, klausa, dan frasa. Oleh
Kridalaksana (1982 ) kalimat merupakan satuan bahasa yang secara relatif
berdiri sendiri, mempunyai pola intonasi final dan secara aktual dan potensial
terdiri dari klausa, misalnya saya makan nasi. Sedang klausa adalah satuan
bentuk linguistik yang terdiri atas subjek dan predikat. Lalu apa yang dimaksud
frasa? Frasa adalah satuan tatabahasa yang tidak melampaui batas fungsi subjek
atau predikat (Ramlan, 1978).
Kaitannya dengan hal tersebut, Tarigan dan Sulistyaningsih (1979) dan
Semi (1990) mengemukakan bahwa kesalahan berbahasa dalam bidang sintaksis
meliputi: kesalahan frasa, kesalahan klausa, dan kesalahan kalimat.
Pateda dalam Markhamah ( 1989:58 ) menyatakan bahwa kesalahan pada daerah sintaksis berhubungan erat dengan kesalahan pada morfologi kerana kalimat berunsurkan kata-kata. Itulah sebabnya daerah kesalahan sintaksis berhubungan dengan beberapa hal yang terkait dengan penyusunan kalimat yang baik. Hal-hal yang dimaksud misalnya dengan kalimat yang berstruktur tidak baku, kalimat yang ambigu, kalimat yang tidak jelas, diksi yang tidak tepat yang membentuk kalimat, kalimat mubazir, kata serapan yang digunakan di dalam kalimat, dan logika kalimat.

B.     Komponen-Komponen Analisis Kesalahan Sintaksis

1.      Kesalahan bidang frasa

Frasa adalah gabungan dua kata atau lebih yang bersifat nonpredikatif atau lazim juga disebut gabungan kata yang mengisi salah satu fungsi sintaksis di dalam kalimat (Chaer, 2003:222). Perhatikan contoh-contoh berikut.
1.      bayi sehat
2.      pisang goreng
3.      baru datang
4.      sedang membaca
Satuan bahasa bayi sehat, pisang goreng, baru datang, dan sedang membaca adalah frasa karena satuan bahasa itu tidak membentuk hubungan subjek dan predikat. Widjono (2007:140) membedakan frasa berdasarkan kelas katanya yaitu frasa verbal, frasa adjektiva, frasa pronominal, frasa adverbia, frasa numeralia, frasa interogativa koordinatif, frasa demonstrativa koordinatif, dan frasa preposisional koordinatif.


Kesalahan berbahasa yang biasa terjadi dalam bidang sintaksis,
khususnya segi frasa, antara lain sebagai berikut.
a.       Pengunaan kata depan tidak tepat: di masa itu
Beberapa frasa preposisional yang tidak tepat karena mengunakan kata depan yang tidak sesuai. Hal ini pengaruh dari bahasa sastra atau bahasa media masa, misalnya sebagai berikut.
di masa seharusnya pada masa itu
di waktu itu seharusnya pada waktu itu
di malam ini seharusnya pada malam itu
di hari itu seharusnya pada hari itu
b.      Penyusunan frasa yang salah struktur
Sejumlah frasa kerja yang salah karena strukturnya yang tidak tepat karena kata keterangan atau modalitas terdapat sesudah kata kerja.
Misalnya:
belajar sudah seharusnya sudah belajar
minum belum seharusnya belum minum
makan sudah seharusnya sudah makan
c.       Penambahan yang dalam frasa benda (B+S)
Frasa benda yang berstruktur kata benda + kata sifat tidak diantarai kata penghubung yang. Misalnya:
petani yang muda seharusnya petani muda
pedagang yang hebat seharusnya pedagang hebat
guru yang profesional seharusnya guru profesional
Anak yang saleh seharusnya anak saleh
d.      Penambahan kata dari atau tentang dalam Frasa Benda (B+B)
Frasa benda yang berstruktur Kata benda + kata benda tidak diantarai kata penghubung yang atau dari, karena tanpa kata dari sudah menunjukkan asal.
Contoh:
gadis dari Bali seharusnya gadis Bali
pisang dari Ambon seharusnya pisang ambon
garam dari inggris seharusnya garam inggris

e.       Penambahan kata kepunyaan dalam Frasa Benda (B+Pr)
Frasa benda yang berstruktur kata benda + kata pronomina tidak diantarai kata penghubung milik atau kepunyaan, karena tanpa kata itu sudah menunjukkan kepunyan posesif, misalnya:
Destar kepunyaan ibu seharusnya destar ibu
Golok milik Abdullah seharusnya golok Abdullah
Buku kepunyaan adik  seharusnya buku adik
Motor milik Imran seharusnya motor Imran
f.        Penambahan  kata untuk dalam frasa Kerja (K pasif + K lain)
Frasa kerja yang berstruktur kata kerja pasif + kata kerja aktif tidak diantarai kata seperti untuk supaya makna yang ditunjuk tanpak jelas, misalnya :
diajar untuk membaca seharusnya diajar membaca
dituduh untuk membunuh seharusnya dituduh membunuh
dibimbing untuk menulis seharusnya dibimbing menulis
dididik untuk berani seharusnya dididik berani

g.      Penghilangan kata yang dalam Frasa Benda (Benda+yang+K pasif)
Frasa benda yang berstruktur kata benda + kata kerja pasif memerlukan kata yang untuk memperjelas makna frase tersebut. Misalnya :
Kursi kududuki seharusnya kursi yang kududuki
Taman kupelihara seharusnya taman yang kupelihara
Baju kubersihkan seharusnya baju yang kebersihkan
Kursi kuperbaiki seharusnya kursi yang kuperbaki
h.      Penghilangan kata oleh dalam Frasa Kerja Pasif (K pasif+oleh+B)
Frasa yang berstruktur dimulai dari kata kerja fasif + kata benda seharusnya tidak dihilangkan kata oleh atau perlu ada kata oleh diantaranya untuk memperjelas makna pasif frase tersebut. Misalnya :
diminta ibu seharusnya diminta oleh ibu
dinasihati kakak seharusnya dinasihati oleh kakak
dibimbing paman seharusnya dibimbing oleh paman
dididik kakek seharusnya dididik oleh kakek
i.        Penghilangan kata yang dalam frasa Sifat (yang +paling +sifat)
Dialah paling pintar di kampung ini . Kalimat tersebut kurang tegas makna yang dimaksud karena tidak menggunakan kata penghubung yang sesudah kata Dialah. Oleh karena itu, kalimat tersebut seharusnya menjadi Dialah yang paling pintar di kampung ini.
Jadi, frase sifat yang dimulai kata paling seharusnya diawali kata yang, misalnya sebagai berikut.
paling besar seharusnya yang paling besar
paling tinggi seharusnya yang paling tinggi
sangat berwibawa seharusnya yang sangat berwibawa
 amat profesional seharusnya yang amat profesional

2.      Kesalahan bidang  klausa

Klausa adalah sebuah konstruksi yang di dalamnya terdapat beberapa kata yang mengandung unsur predikatif (Keraf, 1984:138). Klausa berpotensi menjadi kalimat. (Manaf, 2009:13) menjelaskan bahwa yang membedakan klausa dan kalimat adalah intonasi final di akhir satuan bahasa itu. Kalimat diakhiri dengan intonasi final, sedangkan klausa tidak diakhiri intonasi final. Intonasi final itu dapat berupa intonasi berita, tanya, perintah, dan kagum.

Kesalahan berbahasa yang biasa terjadi dalam bidang sintaksis, khususnya segi klausa, antara lain sebagai berikut.
a.       Penambahan preposisi di antara kata kerja dan objeknya dalam klausa aktif
Dalam klausa aktif seharusnya antara kata kerja dan objeknya tidak diantarai modalitas atau kata keterangan tertentu. Hal ini agar supaya tanpak hubungan yang erat antara predikat dan objek dalam kalimat. Selain itu, agar makna kalimat tersebut tidak menjadi agak kabur. Misalnya:
-Rakyat mencintai akan pimpinan yang jujur seharusnya
Rakyat mencintai pimpinan yang jujur.
-Pemimpin itu melindungi akan rakyatnya  seharusnya
Pemimpim itu melindungi rakyatnya.

b.      Penambahan kata kerja bantu dalam klausa ekuasional
Dalam klausa ekuasional atau nominal, kata kerja bantu adalah tidak perlu ada di antara subjek dan predikat. Hal ini agar keterpaduan antara subjek dan predikat terpadu secara erat.. Selain itu, makna kalimat tersebut nampak dengan jelas. Misalnya:
-Nenekku adalah dukun seharusnya Nenekku dukun
-Bapakku adalah guru SD seharusnya Bapakku guru SD
c.       Pemisahan pelaku dan kata kerja dalam klausa aktif
Dalam klausa aktif, kata modalitas semestinya tidak ada di antara subjek dan predikat. Hal ini agar hubungan dan keterpaduan subjek dan predikat tanpak secara jelas sekaligus memberikan efek makna yang jelas. Misalnya:
-Saya akan membeli rumah itu seharusnya Akan saya membeli rumah itu
-Pak Lurah selalu mengunjungi wilayahnya seharusnya Selalu Pak Lurah mengunjungi wilayahnya
d.      Penghilangan kata oleh dalam klausa pasif.
Klausa fasif adalah klausa yang salah satu ciricirinya adalah menggunakan kata oleh. Misalnya Buku Pendidikan Agama Islam itu dibaca oleh Andi Makkasau. Namun demikian, biasa dijumpai penggunaan klausa pasif tanpa ada kata oleh di dalamnya. Kluasa pasif seperti itu seharusnya menggunakan kata oleh supaya ciri-cirinya sebagai klauas pasif semakin jelas. Misalnya:
-Roman Tenggelamnya Kapal Tanpomas dibaca Rina seharusnya Roman Tenggelamnya Kapal Tanpo Mas dibaca oleh Rina.
-Buku ekonomi itu telah dibaca Amir seharusnya Buku ekonomi itu telahdibaca oleh Amir
e.       Penghilangan kata kerja dalam klausa intranstif
Dalam situasi pembicaraan yang resmi, kadang-kadang menggunakan klausa intransitif, yakni klausa yang predikatnya dari kata kerja intransitif. Namun kata kerja tersebut tidak masukkan dalam kalimat, misalnya /Ibu ke Makassar/. Klausa intranstif tersebut tidak jelas predikatnya; klausa tersebut bukan tergolong klausa yang benar. Olehnya itu, klausa itu perlu diperbaiki menjadi Ibu pergi ke Makassar. Contoh :
-Pak camat ke Maros kemarin seharusnya Pak Camat pergi ke Maros.
-Amin di kolam renang seharusnya Amin berenang di kolam renang

3.      Bidang kalimat

Kesalahan yang biasa terjadi dalam bidang sintaksis, khususnya dari segi kalimat antara lain sebagai berikut.
a.       Penyusunan kalimat yang terpengaruh pada struktur bahasa daerah Berbahasa Indonesia dalam situasi resmi kadang-kadang tidak disadari menerapkan struktur bahasa daerah. Seperti
-Amin pergi ke rumahnya Rudy
-Buku ditulis oleh saya
-Rumah itu dibuat oleh saya.
Kalimat (a), (b), dan (c) terpengaruh pada struktur bahasadaerah. Oleh karena itu, kedua kalimat tersebut dapat diperbaiki menjadi:
-Amin pergi ke rumah Rudy.
-Buku itu saya tulis.
-Rumah itu saya buat.
b.      Kalimat yang tidak bersubjek karena terdapat preposisi di awal Ketika menulis atau berbicara dengan orang lain pada situasi resmi, kadang-kadang menggunakan kalimat yang tidak bersubjek karena adanya kata penghubung seperti dalam, pada, untuk, kepada diletakkan di awal kalimat. Dengan demikian, kalimat tersebut menjadi tidak bersubjek misalnya :
-Dalam pertemuan itu membahas berbagai persoalan. Supaya kalimat itu menjadi bersubjek, seharusnya :
-Pertemuan itu membahas berbagai persoalan. atau
-Dalam pertemuan itu dibahas berbagai persalan.
c.       Penggunaan subjek yang berlebihan
Biasa kita mendengar kalimat Ety membeli ikan ketika Ety akan makan malam. Kalimat tersebut menggunakan dua subjek yang sama. Semestinya subjek kedua dihilangkan dan hal itu tidak mempengaruhi makna kalimat. Dengan demikian, kalimat tersebut dapat diperbaiki menjadi Ety membeli ikan ketika akan makan malam.
Contoh lain:
-Ali menulis drama saat Ali telah membaca buku Rendra tentang drama.
Seharusnya:
-Ali menulis drama setelah membaca buku Rendra tentang drama.
d.      Penggunan kata penghubung secara ganda pada kalimat majemuk
Dalam kalimat majemuk setara berlawanan kadang-kadang ada yang menggunakan dua kata penghubung sekaligus. Penggunaan kata penghubung yang ganda dalam suatu kalimat perlu dihindari. Semestinya hanya satu kata penghubung, misalnya :
-Meskipun sedang sakit kepala, namun Alimuddin tetap pergi sekolah
-Walaupun sibuk sekali tetapi Rudi dan Indrawan selalu hadir di acara sederhana ini.
Seharusnya:
-Meskipun sedang sakit kepala, Alimuddin tap pergi ke sekolah
-Walapun sibuk sekali, Rudi dan Indawan selalau hadir di acara sederhana ini.
e.       Penggunaan kalimat yang tidak logis
Buku itu membahas peningkatan mutu pendidkan di Sekolah Dasar. Kalimat tersebut tidak logis karena tidak mungkin buku mempunyai kemampuan membahas peningkatan mutu pendidikan SD. Oleh karena itu, kalimat tersebut perlu diperbaiki menjadi Dalam buku itu dibahas tentang peningkatan mutu pendidikan di Sekolah Dasar. Atau Dalam buku itu, pengarang membahas peningkatan mutu pendidikan di Sekolah Dasar.
f.       Pengunaan kata penghubung berpasangan secara tidak tepat
Kata penghubung berpasangan yang berfungsi menafikan suatu hal terdiri atas bukan berpasangan melainkan untuk menafikkan ”benda” dan kata penghubung bukan berpasangan tetapi untuk menafikkan ”peristiwa atau kerja”. Kedua kata penghubung berpasangan tersebut seharusnya digunakan secara konsisten dalam berbahasa Indonesia.
Misalnya:
-Bukan Pak Alimuddiin yang mengajarkan IPA tetapi Pak Nurdin. Sudirman tidak menulis buku tetapi menghitung angka.
Dengan demikian, kalimat yang menggunakan bukan ..........tetapi
atau tidak.....melainkan dapat digolongkan bentuk yang tidak semestinya.
Contoh:
-Mereka tidak menulis melainkan sedang melukis.
-Dia bukan perampok tetapi pengemis.
Seharusnya
Mereka tidak menulis tetapi sedang melukis.
-Dia bukan perampok melainkan pengemis
g.      Penyusunan kalimat yang terpengaruh pada struktur bahasa asing
Kata di mana, yang mana, dengan siapa, adalah kata-kata yang lazim digunakan dalam membuat kalimat tanya. Kata-kata tersebut bila digunakan di tengah kalimat yang fungsinya bukan menanyakan sesuatu merupakan pengaruh bahasa asing. Dengan demikian, perlu dihindari penggunaan di mana, yang mana, dengan siapa diganti dengan kata bahasa Indonesia. Misalnya sebagai berikut.
-Rumah di mana dia bermalam dekat dari pasar
-Orang dengan siapa dia ajak bicara belum datang
-Kitab yang kami kaji bersama-sama cukup jelas yang mana memberi contoh-contoh denga jelas pula.
Ketiga kalimat di atas seharusnya:
-Rumah tempat dia bermalam dekat dari pasar.
-Orang yang akan dia ajak bicara belum datang.
-Kitab yang kami kaji bersama-sama cukup jelas karena contoh-contohnya jelas pula
h.      Penggunaan kalimat yang tidak padu
Kalimat yang digunakan kadang-kadang kurang padu karena kesalahan struktur kata yang kurang tepat sehingga maknanya agak kabur.
Misalnya:
-Mereka menyatakan persetujuannya tentang keputusan yang bijaksana itu
-Yang menjadi sebab rusaknya hutan adalah perladangan liar.
Kedua kalimat di atas seharusnya:
-Mereka menyetujui keputusan yang bijaksana itu.
-Penyebab rusaknya hutan adalah perladangan liar.
i.        Penyusunan kalimat yang mubazir
Kalimat yang mubazir biasanya disebabkan penggunaan katakata yang berulang secara berlebihan, penggunaan dua kata yang relatif sama maknanya, misalnya sebagai berikut.
-Dalam konsep pedidikan yang disusunnya banyak terdapat berbagai kesalahan.
-Mereka mencari nafkah demi untuk keluarganya.
-Mahasiswa harus rajin belajar agar supaya lulus dengan nilai yang sangat memuaskan
      Ketiga kalimat tersebut seharusnya:
-Dalam konsep pendidikan yang disusunnya terdapat banyak kesalahan.
-Mereka mencari nafkah demi keluarganya.
-Mahasiswa harustrajin belajar agar lulus dengan nilai yang sangat memuaskan.


BAB 3 PENUTUP


A.     Kesimpulan


Kesalahan berbahasa adalah pemakaian bentuk-bentuk tuturan yang tidak diinginkan  khususnya suatu bentuk tuturan yang tidak diinginkan oleh penyusun program dan guru pengajaran bahasa. Bentuk-bentuk tuturan yang tidak diinginkan adalah bentuk-bentuk tuturan yang menyimpang dari kaidah bahasa baku,sedangkan
kesalahan sintaksis adalah kesalahan atau penyimpangan struktur frase, klausa, atau kalimat, serta ketidaktepatan pemakaian partikel. Analisis kesalahan dalam bidang tata kalimat menyangkut urutan kata, kepaduan, susunan frase, kepaduan kalimat, dan logika kalimat. 


Daftar pustaka



Kridalaksana, Harimurti. 2001. Kamus Linguistik. Jakarta: Gramedia.
Markhamah, Atiqa Sabardila. 2010.   Analisis Kesalahan: Karakteristik & Bentuk Pasif.  Surakarta:




2 komentar:

sealkazzsoftware.blogspot.com resepkuekeringku.com